Malinau Kota – Ekonomi Kalimantan Dibandingkan tahun sebelumnya (2024), perekonomian Kalimantan Utara (Kaltara) pada 2025 ini, diprakirakan tetap tumbuh lebih tinggi. Yaitu pada kisaran 4,5 – 5,0 persen, secara year on year (yoy).
Demikian disampaikan Kepala KPw Bank Indonesia (BI) Kaltara, Hasiando Ginsar Manik, dalam Laporan Perekonomian Provinsi Periode Agustus 2025 yang dirilis awal pekan ini.
Hasiando Ginsar Manik menjelaskan, proyeksi tersebut terutama ditopang kinerja lapangan usaha industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi.
“Industri pengolahan diperkirakan akan memiliki andil besar dalam PDRB 2025, sejalan dengan realisasi investasi dan operasi produksi pabrik pengolahan kertas di Kota Tarakan, peningkatan target produksi CPO oleh beberapa perusahaan kelapa sawit, dan target commissioning smelter aluminium di Bulungan pada Triwulan IV 2025,” jelasnya.
Tak hanya itu, Hasiando Ginsar Manik juga menyebutkan, lapangan usaha perdagangan diperkirakan terus meningkat seiring aktivitas ekonomi dan pembangunan di Kaltara.
Adapun pada sektor konstruksi, diproyeksi tetap tumbuh sejalan dengan berlanjutnya Proyek Strategis Nasional, seperti pembangunan Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI), salah satunya yang dikelola PT Kalimantan Industrial Park Indonesia (KIPI) di Tana Kuning Mangkupadi, Bulungan dan PLTA Sei Mentarang di Malinau.
Lebih jauh BI membeberkan prospek terkini pertumbuhan ekonomi Kaltara 2025. Pertumbuhan positif juga terjadi pada sektor perdagangan. “Ini didukung optimisme konsumen, perdagangan domestik, dan percepatan proyek strategis,” ungkapnya.
Baca Juga : Target Ekstrem Gubernur Kaltara Tekan Angka Kemiskinan, Gandeng Swasta Lewat Sikompas

Sedang di sektor, pertanian, kehutanan, dan perikanan, menurutnya, meningkat tipis berkat kenaikan harga TBS, perluasan lahan padi GERINA, serta optimisme komoditas perikanan dan rumput laut.
“Untuk di sektor pertambangan, pada 2025 ini tmbuh terbatas, akibat penurunan permintaan global dan cuaca kurang mendukung,” kata dia lagi.
Dari sisi permintaan, diungkapkan konsumsi rumah tangga selama 2025 ini terjaga positif. Hal ini didorong kenaikan UMP/UMK dan optimisme masyarakat.
Begitu pun dengan konsumsi pemerintah. BI menyebut tetap tumbuh, meski melambat karena efisiensi APBD.
“Untuk investasi, masih berlanjut tumbuh seiring pembangunan KIPI dan PLTA, meski beberapa proyek infrastruktur ditunda,” ungkapnya.
Beberapa persoalan yang menjadi penghambatan pertumbuhan, disebutkan ada dua faktor. Yaitu eksternal dan internal.
Faktor eksternal, antara lain perlambatan ekonomi Tiongkok dan India menurunkan permintaan ekspor. Kemudian konflik geopolitik, Rusia–Ukraina, Timur Tengah, serta India–Pakistan juga cukup mengganggu. Termasuk juga ketidakpastian perang tarif dagang, serta transisi energi global ke renewable energy.
Sedangkan di internal, cuaca buruk memengaruhi pertanian, perikanan, dan pertambangan, kemudian situasi politik tak kondusif, juga cukup menekan investasi.
“Terakhir penundaan belanja atau pembangunan strategis pemerintah, juga menyebabkan pelambatan pertumbuhan ekonomi,” imbuhnya.













