Malinau – Rangkaian Haul Hadirkan Rangkaian haul Panembahan Raja Tuo menghadirkan penelusuran kembali tiga figur sentral dalam sejarah Tidung melalui ziarah ke sejumlah makam bangsawan.
Ketiganya memiliki peran besar dalam perjalanan awal kepemimpinan dan pembentukan permukiman di Malinau Kota dan sekitarnya.
Ziarah dilaksanakan setelah kegiatan utama di Masjid Agung Darul Jalal pada Sabtu (22/11/2025) pukul 08.00 WITA.
Ketua Panitia Haul Panembahan Raja Tuo, Topan Amrullah mengatakan haul yang juga dirangkaikan ziarah ke makam bagian dari tradisi.
Tujuannya merawat sejarah secara khusus untuk masyarakat Tidung di Malinau.
“Haul tahun ini juga dirangkaikan dengan ziarah ke Makam Panembahan Raja Tuo di Mentarang Baru. Makam Panembahan Aji Kuning Syahabudin di Sembuak dan Makam Miring binti Pangeran Basar di Lidung Kemenci,” ungkapnya, Sabtu (22/11/2025).
Ziarah pertama berlangsung di Mentarang Baru untuk mengunjungi Makam Panembahan Raja Tuo.
Baca Juga : Didukung Alokasi Dana Desa, Pasar Murah 6 Desa di Malinau Kota Kaltara Sasar 2 Ribu Kepala Keluarga
Lokasi ini menjadi tempat pemakaman keluarga kerajaan sejak masa awal pemerintahan Tidung Panembahan.
Panembahan Raja Tuo atau nama lengkapnya Muhammad Ali Hanapia dikenal sebagai tokoh yang memindahkan pusat kerajaan awalnya dari Setiyud kemudian Sawang Pangku (Kuala Bengalun) dan Alung Malinau (Kuala Malinau) pada 1776 M.
Kebijakan tersebut menjadi fondasi perkembangan tata wilayah yang kini dikenal sebagai Malinau.
Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Sembuak, Malinau Utara.
Di tempat ini terdapat makam Panembahan Aji Kuning Syahabuddin yang memimpin kerajaan setelah pengasingan Panembahan Raja Pandita oleh otoritas kolonial.
Histori ini terhubung dengan keberadaan makam Raja Pandita di Kepulauan Seribu, dan menginspirasi penamaan pulau sebagai Pulau Tidung.
Panembahan Aji Kuning tercatat sebagai pemimpin yang memindahkan pusat pemerintahan ke Pagun Sebamben.
Raja Tuo atau nama lengkapnya Muhammad Ali Hanapia dikenal sebagai tokoh yang memindahkan pusat kerajaan awalnya dari Setiyud kemudian Sawang Pangku (Kuala Bengalun) dan Alung Malinau (Kuala Malinau) pada 1776 M.
Kawasan itu berkembang pesat pada awal 1900-an hingga berubah menjadi Malinau Kota.













