Dua tahun lalu, saya hampir saja memutuskan sesuatu yang bodoh gara-gara satu pesan berantai di grup WhatsApp keluarga. Pesannya tentang seorang pejabat yang katanya kabur membawa uang rakyat. Lengkap dengan foto, kutipan, dan tulisan "TOLONG SEBARKAN!" di bagian bawah. Saya, yang waktu itu baru setahun pensiun dan masih merasa "melek" soal berita, langsung ikut meneruskan pesan itu ke tiga grup lain. Eh, dua hari kemudian ada klarifikasi: fotonya milik orang lain, kutipannya dipotong, dan kasusnya tidak pernah ada. Malu? Jelas. Tapi dari situlah saya mulai belajar hal-hal yang tidak pernah diajarkan di kantor dulu.
Kenapa Pensiunan Gampang Ketipu Berita Viral
Jujur saja, saya pikir masalahnya cuma ada di saya. Ternyata setelah ngobrol sama teman-teman sesama pensiunan di posyandu dan arisan, banyak yang mengalami hal serupa. Ada yang hampir transfer uang ke "rekening bantuan pemerintah". Ada yang sempat marah-marah ke tetangga gara-gara berita soal bansos yang ternyata hoaks.
Kenapa gampang ketipu? Menurut saya karena beberapa hal yang sangat manusiawi:
Baca juga: JPU Bongkar Chat Vendor Chromebook
- Waktu luang jadi banyak, tapi alat periksa fakta masih minim. Dulu di kantor, kalau ada berita aneh, ada teman yang lebih muda yang bisa bantu cek. Sekarang? Kita sendirian di depan HP.
- Grup keluarga dan grup alumni jadi sumber "kebenaran". Kalau yang kirim kakak sendiri atau teman lama, rasanya kok tidak mungkin bohong. Padahal mereka juga belum tentu tahu.
- Emosi lebih cepat tersulut. Berita yang bikin marah atau bikin haru biasanya yang paling cepat kami teruskan, tanpa mikir dua kali.
Ini bukan soal usia, sebenarnya. Ini soal kebiasaan. Dan kebiasaan bisa diubah, kok. Saya sendiri membuktikannya.
Pelajaran Pertama: Berhenti Sejenak Itu Bukan Pemborosan Waktu
Setelah kejadian memalukan itu, saya bikin aturan pribadi yang kelihatannya sepele tapi efeknya besar: jangan pernah meneruskan pesan berantai yang bikin saya emosi dalam waktu kurang dari satu jam. Titik. Kalau pesannya bikin marah, sedih, atau kaget berlebihan, saya simpan dulu. Satu jam kemudian, biasanya saya sudah lebih tenang dan bisa mikir jernih.
Pernah suatu kali ada pesan soal "vaksin berbahaya" yang dikirim ke grup arisan. Dulu, saya mungkin langsung ikut heboh. Tapi karena aturan satu jam itu, saya malah sempat buka beberapa situs berita terpercaya. Ternyata isunya sudah lama dibantah. Saya balas di grup dengan link klarifikasinya, dan beberapa teman berterima kasih. Rasanya jauh lebih enak daripada jadi penyebar hoaks.
"Berita viral itu seperti cabai: sedikit bikin sedap, kebanyakan bikin perut mules. Dan yang paling berbahaya, kadang kita tidak sadar sudah kebanyakan."
Pelajaran Kedua: Cek Sumber, Bukan Cek Perasaan
Ini yang paling susah buat saya. Selama puluhan tahun bekerja, saya terbiasa percaya pada orang yang saya kenal. Tapi di dunia berita digital, kenal saja tidak cukup. Sumbernya harus jelas: nama media, tanggal terbit, penulisnya siapa.
Kalau pesan berantai tidak menyebut sumber yang jelas, saya sekarang langsung curiga. Apalagi kalau ada tulisan "sebarkan sebelum dihapus" atau "media mainstream tidak berani memberitakan ini". Justru kalimat-kalimat seperti itu yang bikin saya makin waspada.
Cara simpel yang saya pakai sehari-hari
Saya tidak pakai aplikasi cek fakta yang rumit. Cukup tiga langkah sederhana:
- Ketik judul beritanya di Google. Kalau berita itu benar dan penting, pasti ada beberapa media besar yang memberitakan. Kalau cuma satu situs aneh yang muncul, saya tinggalkan.
- Cek tanggalnya. Banyak berita viral yang sebenarnya berita lama, diputar ulang seolah baru terjadi. Ini sering banget saya temui.
- Tanya anak atau cucu. Ini bukan karena mereka lebih pintar, tapi karena mereka lebih terbiasa dengan dunia digital. Tidak ada salahnya minta tolong dicek.
Yang terakhir itu penting saya tekankan. Banyak teman pensiunan yang gengsi bertanya ke anaknya sendiri. Padahal, minta tolong dicek itu bukan tanda tidak capable, justru tanda kita bijak.
Pelajaran Ketiga: Berita Viral Bukan Musuh, Asal Kita Tidak Jadi Korban
Saya tidak mau jadi orang yang anti terhadap berita viral. Justru banyak berita penting yang pertama kali saya tahu dari grup WhatsApp. Misalnya info soal penutupan jalan, atau berita duka dari teman lama. Jadi masalahnya bukan berita viralnya, tapi cara kita menyikapinya.
Ada satu pengalaman lagi yang saya ingat betul. Tahun lalu, grup alumni ramai membicarakan berita soal seorang guru yang katanya melakukan hal tidak pantas. Semua sudah menghakimi. Tapi ada satu teman yang tenang bertanya: "Sumbernya dari mana?" Ternyata setelah ditelusuri, beritanya berasal dari akun tidak jelas dan fotonya hasil editan. Guru itu tidak bersalah sama sekali. Bayangkan kalau teman saya tidak bertanya.
Dari situ saya sadar, satu orang yang mau berhenti dan bertanya bisa menyelamatkan banyak orang dari kesalahan. Dan saya ingin jadi orang itu, meskipun terlambat. Lebih baik terlambat sadar daripada tidak pernah sadar sama sekali.
Buat kamu yang sekarang sudah pensiun atau sebentar lagi, saya cuma mau bilang: tidak apa-apa kalau kita pernah salah. Yang penting, kita mau belajar. Dunia berita sudah berubah banyak sejak kita muda dulu. Dulu berita datang lewat koran pagi yang sudah diedit puluhan orang. Sekarang berita datang tiap detik lewat HP, tanpa saringan. Kita yang harus jadi saringannya sendiri.
Dan percayalah, setelah beberapa bulan membiasakan diri, mengecek berita itu jadi refleks. Tidak berat, kok. Malah jadi semacam olahraga otak yang bikin saya merasa masih waras dan masih berguna di grup keluarga.