Gue mau cerita soal eksperimen kecil yang gue jalanin sebulan terakhir. Bukan soal diet, bukan soal olahraga pagi. Ini soal kebiasaan yang kayaknya sepele tapi efeknya kerasa banget: ngurangin konsumsi berita. Khususnya berita yang masuk lewat HP tiap hari, dari grup WA sampai notifikasi aplikasi.
Kenapa gue angkat topik ini? Karena gue tinggal di kota kecil, dan gue sadar banyak tetangga gue — termasuk yang di kampung — sekarang pegang HP lebih lama daripada pegang cangkul atau sapu. Berita datang terus, 24 jam, dan nggak semua bikin hidup lebih baik.
Berita Datang Terus, Padahal Nggak Semua Kita Butuh
Dulu, sebelum HP pintar murah, orang di desa gue tahunya kabar dari TV sore, radio, atau obrolan di warung. Itu pun secukupnya. Sekarang? Beda total. Bangun tidur buka HP, ada puluhan judul. Belum sarapan, udah kebaca berita kecelakaan, konflik, harga naik, pejabat korupsi. Semua masuk ke kepala sebelum kopi dingin.
Gue sendiri ngerasain. Awalnya gue pikir ini cuma soal "biar nggak kudet". Tapi lama-lama badan gue kayak capek terus. Padahal kerjaan di rumah ya gitu-gitu aja. Ternyata yang bikin capek bukan kerja fisik, tapi kepala yang penuh info nggak jelas ujungnya.
Baca juga: HUT KORPRI ke-54, ASN Pemprov Kaltara Diminta Tingkatkan Integritas Pelayanan Publik
Jadi sebulan lalu gue coba tantangan sederhana: batasi berita jadi dua kali sehari, masing-masing 15 menit. Pagi setelah sarapan, sore sebelum maghrib. Sisanya, notifikasi gue matiin. Grup WA yang isinya cuma forward berita heboh gue mute. Nggak keluar, cuma diem aja.
Yang Berubah di Minggu Pertama: Gelisah, Tapi Lama-lama Enak
Jujur ya, tiga hari pertama itu aneh. Tangan gatel pengen buka HP. Kayak ada yang kurang. Gue sempat ngerasa ketinggalan, padahal tetangga juga nggak nanya apa-apa. Nah, di sinilah sadarnya: kita sering merasa harus tahu, padahal nggak ada yang nuntut kita tahu.
Masuk minggu kedua, ada perubahan yang kerasa banget di tidur. Biasanya gue susah tidur karena kepala masih muter mikirin berita yang barusan dibaca. Sekarang, begitu HP ditinggal di ruang tamu, mata lebih gampang merem. Istri gue juga bilang gue lebih jarang ngeluh. Itu udah poin plus tersendiri.
Yang paling ngejutin: berita besar tetap sampai ke gue, kok. Cuma sekarang lewat obrolan warung, bukan lewat layar yang bikin panik duluan.
Efek ke Dompet dan Dapur
Ini yang nggak gue duga. Karena jarang baca berita soal harga dan "kabar buruk ekonomi", gue jadi lebih tenang belanja. Nggak buru-buru numpuk barang karena takut harga naik besok. Ternyata keputusan belanja gue lebih waras waktu kepala nggak dipenuhin rasa takut tiap jam.
Istri gue juga ngerasain hal serupa. Dia bilang, dulu tiap lihat berita soal kelangkaan, langsung pengen beli banyak. Sekarang dia nanya dulu: "Kita beneran butuh, nggak?" Simpel, tapi ngaruh.
Obrolan di Warung Jadi Lebih Manusiawi
Ini bagian favorit gue. Sebelum eksperimen ini, ngobrol di warung sering berubah jadi debat berita. Saling nyalahin, saling tunjuk sumber, padahal ujungnya nggak ada yang menang. Sekarang? Karena gue nggak nyimpen detail berita, gue lebih banyak nanya dan dengerin.
Eh, malah jadi asik. Pak RT cerita soal panen, Bu Ani cerita anaknya dapat kerja. Obrolan jadi hangat, bukan panas. Mungkin kedengarannya berlebihan, tapi buat gue ini perubahan nyata. Kampung yang warganya nggak kebanyakan nonton berita heboh itu lebih rukun, setidaknya di lingkaran gue.
Ada juga sisi lucunya. Beberapa tetangga malah nanya, "Kamu kok udah nggak update?" Gue jawab santai aja: gue update kok, cuma nggak mau tiap jam. Ada yang ngangguk, ada yang ketawa. Nggak masalah.
Bukan Berarti Nggak Peduli, Cuma Lebih Pilih
Gue pengen garis bawahi satu hal, biar nggak salah paham. Ngurangin berita bukan berarti jadi orang yang cuek atau nggak peduli sama sekitar. Justru sebaliknya. Waktu kepala lebih lega, gue malah sempat bantu kerja bakti, ikut rapat RT, dan lebih fokus ke hal yang bisa gue sentuh langsung.
Berita penting tetap gue baca. Info cuaca buat petani, kabar harga pupuk, pengumuman desa — itu gue pantau. Yang gue kurangin itu berita sensasional yang bikin dada sesak tapi nggak bisa gue apa-apain. Bedanya jelas: informasi yang berguna vs informasi yang bikin gelisah doang.
- Berita berguna: pengumuman desa, cuaca, harga kebutuhan pokok, info kesehatan praktis.
- Berita bikin panik: konflik jauh, drama viral, judul heboh tanpa solusi, forward grup tanpa sumber jelas.
Kalau kamu warga kota kecil atau desa kayak gue, saran gue sederhana. Coba dulu seminggu. Matiin notifikasi berita. Batasi jam buka HP. Terus perhatiin apa yang berubah. Mungkin tidur kamu lebih enak, mungkin obrolan sama keluarga lebih panjang, atau mungkin dompet lebih aman karena nggak panik belanja.
Gue nggak nyuruh kamu berhenti baca berita total. Itu lebay. Cuma, sebulan ini ngajarin gue satu hal: tenang itu bukan soal dunia lagi aman, tapi soal kita bisa milih apa yang masuk ke kepala kita. Dan pilihan itu, sekarang, ada di tangan kita sendiri — bahkan buat orang kampung sekalipun.