Ketergantungan Pasokan Beras Malinau pada Jawa dan Sulawesi: Dampak pada Harga dan Solusi Jangka Panjang
Info Malinau Kota– Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, hingga saat ini masih sangat bergantung pada pasokan beras dari luar daerah, terutama dari Jawa dan Sulawesi. Ketergantungan ini tidak hanya memengaruhi ketersediaan stok, tetapi juga membuat harga beras di Malinau sangat rentan terhadap fluktuasi harga di daerah asal.
Beras merupakan komoditas pokok yang harganya sangat sensitif terhadap perubahan pasokan dan biaya distribusi. Sayangnya, Malinau belum mampu memenuhi kebutuhan berasnya secara mandiri, sehingga harus mengandalkan pasokan dari wilayah lain. Kondisi ini menimbulkan tantangan tersendiri bagi stabilitas harga dan ketahanan pangan di daerah tersebut.
Pasokan Bergantung pada Jawa dan Sulawesi, Harga Ikut Naik
Menurut Joko, Pengawas Bidang Perdagangan dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop) Malinau, mayoritas beras yang beredar di Malinau didatangkan dari Jawa dan Sulawesi.
“Kalau di sana harganya naik, kita di sini pasti terdampak. Misalnya sekarang dari Jawa naik, ya otomatis kita ikut naik,” jelas Joko.

Baca Juga: RTRW 2025-2044 Malinau Siapkan Fondasi Pembangunan Berkelanjutan dan Merata
Selain dari Jawa dan Sulawesi, Malinau juga mendapat pasokan dari Tarakan. Namun, harga beras dari Tarakan pun sudah mengalami kenaikan, sehingga tidak memberikan solusi yang lebih murah bagi konsumen.
“Kalau dari Tarakan juga sudah naik. Jadi imbasnya tetap kita rasakan,” tambah Joko.
Harga Beras Premium Melonjak, RASDA Terbatas
Kenaikan harga beras di daerah asal pasokan telah memicu peningkatan harga beras premium . Beberapa merek populer seperti Lahap dan Jempol kini dijual seharga Rp 345.000–Rp 348.000 per 20 kg, naik Rp 10.000–Rp 15.000 dari harga sebelumnya.
Meskipun harganya lebih tinggi, beras premium tetap menjadi pilihan utama masyarakat Malinau. Sementara itu, beras bersubsidi seperti RASDA (Beras Daerah) masih tersedia dengan harga lebih terjangkau, sekitar Rp 11.000 per kilogram. Namun, ketersediaannya sangat terbatas dan distribusinya bergantung pada panen serta pasokan dari Perusahaan Daerah (Perusda).
“Untuk premium seperti Lahap dan Jempol masih paling diminati. Subsidi seperti RASDA memang murah, tapi terbatas dan bergantung pada panen serta suplai dari Perusda,” jelas Joko.
Ketergantungan Malinau pada pasokan beras dari luar daerah menunjukkan kerentanan sistem pangan lokal. Beberapa faktor yang memperparah kondisi ini antara lain:
-
Kurangnya Lahan Sawah Produktif – memiliki kondisi geografis yang didominasi oleh hutan dan pegunungan, sehingga sulit mengembangkan pertanian padi skala besar.
-
Biaya Logistik yang Tinggi – Pengiriman beras dari Jawa dan Sulawesi membutuhkan waktu lama dan biaya transportasi yang mahal, yang akhirnya dibebankan kepada konsumen.
-
Ketergantungan pada Pasar Luar – Minimnya produksi beras lokal membuat sangat bergantung pada pasokan dari daerah lain, sehingga rentan terhadap gejolak harga.













